Author : Hime Hoshi
Genre : Romance
Tanganku masih setia memetik senar-senar gitar. Mengalunkan
gemerisik rentetan nada dan ritme. Tanpa terasa mulutku mengucapkan syair
mengikuti nada. Kini butiran bening mulai membasahi pipi, terjun bebas ke
setiap lekuk wajahku.
Aku sadar, aku juga bersalah dalam hal ini. Akan
tetapi aku juga butuh pengertian dari Ilham. Jujur, aku tidak ingin mengakhiri
hubungan ini. Hubungan yang sudah dua tahun kurajut perlahan-lahan. Aku masih
ingat setiap jengkal kenangan yang telah ku lalui bersama Ilham.
“Wid, pulang bareng yuk!” ajak Ilham
dengan semangat.
“Maaf ham, hari ini aku mau ngerjain tugas
kelompok,” dengan susah payah aku menjawab. Aku tahu, Ilham pasti kecewa.
Sebenarnya aku ingin pulang bersama Ilham. Sudah lama
aku tidak pulang dengan pacarku sendiri. Semua karena kesibukanku akhir-akhir
ini. Mau bagaimana lagi, ini memang harus aku kerjakan. Mulai dari tugas
kelompok, bimbel, sampai privat untuk ujian akhir nanti.
Sudah ku bilang, ini memang salahku. Seharusnya aku
bisa meluangkan waktu. Walaupun hanya sekedar berbicara dengan pacaraku
sendiri, atau lebih tepatnya mantan pacarku.
Tidak, aku tidak bersalah. Ilham yang seharusnya
mengerti akan keadaanku saat ini. Bukankah dia juga akan ujian? ah, aku memang
egois. Selalu menyalahkan orang lain.
“Jreng,
jreng, jreng,” tanganku memetik senar dengan kasar, memaksa gitar agar
berbunyi. Bunyi yang keluar sama acak-acakannya dengan hati ini. Air mata yang
dari tadi mengalir belum bisa terbendung. Tanpa Ilham di sini rasanya berbeda,
sangat berbeda. Entahlah, aku sendiri tidak mengeti akan apa yang sekarang ku
rasakan.
Aku tidak
pernah mengetahui perasaan Ilham saat ini. Mungkinkah dia merasa bebas karena
telah terlepas dari cengkraman hati, ataukah dia merasakan apa yang sekarang
aku rasakan.
Setiap
hari pekerjaanu hanyalah melamun. Aku belum pernah merasakan seperti ini. Ilham
adalah cinta pertamaku. Selama pacaran kami selalu baik-baik saja, tidak pernah
sekalipun bertengkar. Tapi, kenapa hanya karena masalah seperti ini kami bisa
mengakhiri hubungan dengan mudahnya? entahlah, aku sendiri tidak mengetahuinya.
Mungkin ini
adalah cobaan untuk hubungan kami. Bukankah pada setiap hubungan tidak akan
pernah berjalan mulus tanpa rintangan. Tapi, sampai kapan aku akan seperti ini?
tidak mungkin Ilham bisa kembali bersamaku. Sejak kejadian itu, aku belum pernah
berbicara dengannya.
“Please,
kamu ngertiin aku! hari ini aku ada bimbel mendadak. Jadwalnya tiba-tiba
diganti,” pintaku dengan nada melemah. Ini adalah kesekian kalinya aku
mengecewakan ajakan Ilham.
“Sampai
kapan aku harus ngertiin kamu? sampai kita putus? sudah lama aku selalu
bersabar untuk kesibukanmu. Kali ini saja aku minta kamu mau. Ini Aniv kita
yang ke dua tahun Widya.” Ilham tetap tidak mau mengalah dengan ajakannya.
Aku
hanya diam tak menjawab. Jika harus memilih aku ingin pergi merayakan aniv,
tapi jika hari ini aku harus bolos bimbel pasti akan ada kepala pecah mendengar
ceramahan dari mama. Aku tahu, seharusnya cinta mau berkoban. Seharusnya aku
rela kena marah untuk Ilham. Tapi apa daya aku hanya bisa seperti ini.
“Kalo
sore ini kamu nggak bisa nanti malem aku jemput.”
“Kau tahu sendiri
aku tak boleh keluar malam,”
“Aku yang akan
meminta izin, aku yang akan mengahadapi orang tuamu.”
“Tapi ...”
“Sudahlah,
terserah kau saja.” Saat itu juga Ilham melangkah meninggalkanku yang masih
berdiri terpaku.
Aku mencoba kembali menenangkan hati.
Menghanyut dalam syair lagu yang membuatku semakin mengingat masa-masa indah
bersama Ilham. Mulai dari makan es krim bersama, lari-larian di pantai, sampai
sebuah kejadian yang paling membuatku hancur berkeping keping.
“Ilham,” pekik ku yang melihat Ilham
berdua dengan seorang cewek di depan kelas.
Ilham justru melanjutkan bercandanya
dengan cewek tadi, seolah tak ada aku di sana. Dia menyindirku. Membuatku
cemburu. Saat itu pula aku menyadari akan semua yang telah kulakukan. Aku tahu
aku salah, aku sudah dikalahkan oleh rasa obsesi. Tapi mengapa Ilham selingkuh?
ternyata benar, hati seorang cowok memang tidak pernah betah kosong sebentar
apapun.
“Ilham, kau ...,” belum sempat aku
melanjutkan, Ilham sudah memotongnya.
“Eh ada Widya. Wid, kenalin ini pacar baru
gue.” Ilham mengucapkannya dengan nada biasa. Seperti tak pernah merasa jika
dia telah melakukan hal yang tidak boleh dilakukn dalam sebuah hubungan.
Ilham tak salah, dia berhak memilih cewek lain, dia
berhak mengakhiri hubungan dengan cewek yang selalu mengecewakannya. Meski
Ilham tak pernah mengatakan kata putus, aku rasa kejadian itu seperti
mengatakannya. Menandakan berakhirnya sebuah hubungan.
Lagu ini membuatku semakin mengahanyut.
Berulang kali aku memainkannya. Apa benar aku yang salah? Ah, aku memang salah.
Aku ingin Ilham tahu akan perasaanku saat ini. Aku ingin dia ada di sini
menenangkan hatiku. Tidak, aku tak butuh dia, Ilham sudah selingkuh. Dia jahat.
Aku benci fikiranku, kenapa hanya berisi
saling beradu. Antara menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan Ilham. Sampai
kapan fikiranku akan seperti ini? tidakkah aku harus mengakhirinya. Aku ingin
semuanya selesai. Aku ingin kembali tersenyum.
Kau tahu? Pekerjaan yang kulakukan
hanyalah sia-sia. Aku yang berusaha keras mengikuti bimbel ini itu untuk
mendapatkan nilai tertinggi, mungkin tak akan membuahkan hasil. Saat ujian
minggu kemarin aku tak bisa berkonsentrasi, hanya ada Ilham di kepalaku.
Sekarang aku sadar, ternyata tidak hanya belajar yang
dibutuhkan untuk melewati ini, namun juga sebuah ketenangan hati dan fikiran.
Pengumuman memang belum keluar, tapi aku yakin nilaiku tak akan sebaik yang aku
perkirakan sebelumnya. Menyebalkan, dasar bodoh.
Acara promnite tahun ini sama seperti
tahun kemarin. Dilaksanakan pada malam hari. Ini acara sekolah, lagi pula ini
adalah acara tanda akhir sebuah perjalnan masa putih abu-abu. Orang tuaku tak
akan melarang untuk keluar mengikut acara ini. Seandainya hubunganku dengan
Ilham belum berakhir, pasti malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan.
Semoga saja berakhirnya aku sekolah di sini, aku juga bisa melupakan Ilham.
Mungkin inilah jalan yang sebenarnya. Tapi, apakah aku bisa melakukannya? Aku
rasa tidak. Pasti sangat sulit.
Ruangan ini redup, bahkan sama redupnya dengan
suasana malam di luar sana. Aku hanya duduk di bangku yang dekat dengan pintu
keluar. Dengan harapan, jika sudah suntuk aku bisa langsung keluar dan pulang.
Acara resmi sudah selesai. Berbagai sambutan dari
ketua panitia, wakil kelas XII, kepala sekolah, berlalu begitu saja melewati
rongga telinga. Giliran acara hiburan, hal paling menyebalkan yang akan
menemani malam ini.
Drama bernuansa
horor tak membutku ketakutan, dance yang penuh komedi tak membuatku tertawa,
kehebatan berbagai bakat tak berhasil membuatku kagum. Semuanya kosong di depan
mata. Mungkin inilah yang namanya melihat akan tetapi tak masuk ke fikiran.
Mungkin aku akan kabur pulang sebelum puncak acara di mulai. Aku tak ingin ikut
menari dan berdansa menghabiskan malam mengikuti puncak acara.
Aku yang hendak
berdiri dan keluar seketika duduk kembali karena semua lampu semakin meredup.
Gelap, tidak tampak satu orangpun. Sebuah lampu sorot mengarah tepat padaku,
membuat mata menyipit karena silau. Hanya aku yang terlihat di sini. Lampu sorot
kedua muncul perlahan di atas panggung mengiringi ucapan seorang cowok yang
duduk memegang gitar.
“Lagu ini special
untuk seseorang yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.”
Mataku memicing
kedepan, memperhatian sosok di depan sana. Dia Ilham, ya Ilham. Meski tidak
menyebutkan nama, semua orang tahu yang dimaksud Ilham adalah aku. Lampu sorot
ini tak bergeser sedikitpun. Menyinari seluruh tubuhku, membuatku menjadi orang
paling terlihat di ruangan ini. Meski aku tak bisa melihat sekeliling, aku
yakin, semua mata memandang kearahku saat ini.
Ilham
mulai memetik senar-senar gitarnya, membunyikan rentetan nada yang ada di
kepala. Mengalunkan syair penuh perasaan. Sepertinya ruangan ini hanya dipenuhi
suara ilham yang mengerikan, membuat merinding. Tak ada sekecil suara apapun
yang mampu menganggunya.
Awalnya
aku terhipnotis oleh lagu yang di nyanyika Ilham, akan tetapi sekarang tidak.
Aku berhasil lari dari lampu sorot itu. Sayup-sayup terdengar suara tepuk
tangan yang menggema. Aku hanya bisa berdiri di luar, berusaha menghentikan
aliran deras yang terjun dari mataku. Dengan gontai aku berjalan menuju parkiran
yang letaknya agak jauh dari gedung.
Langkahku
terhenti, ada yang menarik tanganku dari belakang. Siapa lagi jika bukan Ilham.
Aliran darahku terasa behenti, semua otot menegang, rasanya tubuh ini kaku
mendadak. Perlahan Ilham memagang kedua pundakku, membalikan badanku agar
berhadapan dengannya. Tak ada yang bisa ku lakuan selain menundukan kepala,
menutupi mataku yang masih mengurai air mata.
Tangan
kanan Ilham memegang daguku. Mengangkatnya pelan-pelan, mataku tetap saja
menutup. Aku tak berani menatap mata Ilham. Aku takut, tangisku akan semaki
deras.
“Maafakan
aku,” gumam Ilham tepat di depan wajahku, dia pasti sedang menatap mataku yang
terus mengatup.
Tanpa
menunggu jawaban, Ilham menghempaskan tubuhku ke dadanya. Mendekapku erat tanpa
ampun. Seluruh ototku yang menegang seketika relaks, aliran darahku yang
berhenti seketika mengalir deras. Aku rindu pelukan ini. Sudah lama aku tak
merasakan kehangatan berada di dadanya.
Thaks For Reading

Tidak ada komentar:
Posting Komentar